Silent for A While

Akhir-akhir ini, gue lagi sering belajar untuk diam dan hening di Twitter. Mungkin ini karena pembelajaran dari puasa sosial media bulan kemarin. Gue belajar  satu hal, tidak semua hal bisa di share di sosial media dan itulah diam yang sangat emas. Saat gue tahu sesuatu yang ‘menarik’ dari teman-teman gue atau apapun itu, gue punya kewajiban untuk tidak ‘heboh’ di Twitter.

Gue belajar untuk post hal-hal yang membangun daripada sesuatu yang sifatnya cengeng dan terkesan lemah. Gue percaya follower gue di Twitter pantas mendapatkan post-post yang membantu mereka untuk semangat. Kita gak pernah tahu apa dampak dari sebuah tweet atau sekedar status update di Facebook.

Gue sangat percaya, saat kita menyebarkan nilai-nilai positif, lingkungan kita juga jadi positif. Berarti, ini semua masalah pilihan. Maukah kita ‘nyampah’ di timeline orang dengan elegant atau nyampah benar-benar nyampah?

Oh ya, gue paling anti sama akun-akun gak jelas yang kehadirannya sama sekali gak membawa dampak positif dan akhirnya jadi sampah di Twitter gue. Tanpa babibu, langsung gue report as spam.

Malang itu kejam juga bro.

My Twitter, My Rights..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s