20 : New Movie-backwards

“Selamat ulang tahun Fanny!” ujar Tuhan dengan nada riangNya. Dengan semangat, Dia memberikan lengannya untuk digandeng.

“Makasih ya, Tuhan. Mau kemana kita?” jawabku.

“Sudahlah, ikut saja yuk! Kita bakal nonton film hehehe.” balas Tuhan sambil tersenyum lebar.

“Okay! Kalau film, aku semangat!” balasku riang dan menggandeng tangan Tuhan.

Kami masuk ke studio 2 dan memilih tempat di tengah-tengah ruangan. Tidak ada orang lain, cuma aku dan Tuhan.

Filmpun dimulai. “20”, itu tulisan yang paling pertama muncul di layar.

“Tuhan..”bisikku padaNya.

“Ssstt..”Tuhan menyuruhku diam.

Di layar besar itu, aku lihat sekumpulan orang berseragam sedang mengelilingi sesuatu. Salah satu dari mereka memerintahkan kepada yang lain. Salah satu dari mereka keluar dengan tangan merah, itu darah, pikirku. Aku mengerti. Itu ruang operasi. Salah satu dari mereka keluar lagi dari lingkaran sambil menggendong.. seorang bayi. Dalam sekejap, bayi itu menangis.

“Bayi itu kamu, Fan..” Tuhan berbisik lagi. Kali ini Dia menatapku dengan mata berair. Tuhan menitikkan air mataNya. Aku mulai meneteskan air mataku.

“Dan aku bersyukur atas kelahiranMu di dunia ini..” lanjut Tuhan sambil mengusap pipiNya yang basah.

***

Film dilanjutkan dengan masa-masa kecilku. Saat pertama kali aku belajar berjalan dipapah mama dan papa. Lalu..

“Tuhan! Itu Engkau!” teriakku sambil menunjuk ke arah layar.

“Iya, itu Aku, Nak..” jawab Tuhan.

Aku melihat Tuhan juga ada disitu bersamaku. Dia memapahku saat aku belajar berjalan. Saat aku jatuh, sontak mama dan papa memegangku. Tuhanpun ikut memegangku. WajahNya terlihat khawatir tapi Dia tersenyum sambil memberi aba-aba untuk aku mulai berjalan lagi. Terkadang Dia tertawa saat aku jatuh tapi malah tertawa. Tawa Tuhan sangat indah, pikirku.

***

Filmpun berlanjut lagi. Aku mulai bertumbuh, memasuki masa-masa sekolah dan masa-masa remajaku..

Aku melihat masa-masa terberat dalam hidupku.. Aku memilih untuk menundukkan kepalaku. Aku mendengar  teriakkan mama dan papaku. Aku mulai menangis.

“Lihat, Fan. Aku sekali-kalipun tidak meninggalkan engkau.” Kata Tuhan.

Aku memberanikan melihat film itu lagi. Disitu, aku melihat diriku. Aku sedang berdoa dan aku menangis sangat keras. Ada Tuhan disampingku. Dia ikut menangis bersamaku. Dia memegang bahuku, memberikan kekuatanNya. Dia mengelus lembut rambutku, memberikan kasihNya. Lalu aku mulai berhenti menangis dan mengusap pipiku kasar. Aku melihat diriku tersenyum semangat. Ah, aku ingat senyum itu dan aku mengingat apa yang terlintas di pikiranku saat itu. Aku melihat  Tuhan juga tersenyum.

Tidak terasa film itu mulai menunjukkan banyak cerita. Dari masa-masa terberatku sampai masa-masa paling indahku. Aku tertawa bersama Tuhan saat kami melihat bagian aku bersama teman-temanku. Tuhan tertawa sangat lebar saat melihat aku juga tertawa karena mendengar lawakkan teman-temanku. Tuhan juga menangis saat aku menangis karena luka di hatiku.

Lalu layar berhenti menampilkan cerita hidupku. Yang muncul terakhir di layar bukan kata “The End” tapi “To Be Continued”.

Lampu mulai menyala dan aku dapat melihat dengan jelas Tuhan sedang mengusap matanya sambil membelakangi aku.

“Tuhan…” bisikku sambil memegang punggungNya.

“Iya..” jawabNya lirih. Tuhan mulai membalikkan badanNya.

“…” aku memilh diam.

“Kamu suka filmnya?” Tanya Tuhan kembali dengan suara bijaknya.

“Aku suka Tuhan! Karena ada Engkau di film itu…”jawabku spontan.

“Hahaha! Tentu saja Aku ada disitu. Aku ada di setiap detik hidupmu, Nak. Aku tidak akan meninggalkan engkau. Sekalipun tidak!”

Selanjutnya, Aku terus menggandeng lenganNya sampai keluar bioskop. Kami melanjutkan pembicaraan kami dalam tawa. Kami melanjutkan cerita hidupku bersama-sama.

                                                                          -The End (?)-

P.S :

Ah, finally I realize that I have walked on this earth for 20 years. What a year! Semalam gue tertawa terlalu banyak dan pagi tadi gue menuai tangis. Gue basah sebasah-basahnya karena 2 lagu yang gue dengar tadi pagi.

Your love so great
Higher than the stars
Unfailing love
Deeper than the sea
Your love so sure
Stronger than the mountains
Oh Your love
It’s everything to me
How deep, how wide, how long, how high

(Hillsong Live – Love So High) dan Hillsong, Hope of The World. Dua lagu ini kayak jadi backsong flashback moment gue tadi pagi. Dua puluh tahun itu bukan waktu yang sebentar dan gue melewatinya tidak dengan mudah. Gue nangis sampai bahu bergoncang. Gue bener-bener basah tadi pagi.

Cerita di atas cuma sebagian sangat kecil dari rasa syukur gue buat penyertaanNya yang ruarr biasa. Gue tahu, Dia ada dimana gue ada. Dan gue gak pernah sendirian.

Makasih Tuhan Yesus. Me love ya moree! ❤

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s