Eksistensi

Terbesit percik-percik yang aku bilang rindu.

Eksistensimu yang terbenam dibawah kasur lamaku bersama debu dan abu itu, ingin aku ambil dan aku bersihkan.

Kalau saja kamu bertanya kenapa kamu ada terbenam bersama debu dan abu, aku akan menjawab karena eksistensimu itu semu sama seperti rindu ini.

Kalau saja aku tidak menjahati aku yang ada di dalam ku, mungkin tempatmu tidak bersama debu dan abu tapi hangat bersama hatiku saling bersebelahan.

Ah, dinding kamarkupun berbisik bisik-bisik mimpi masa lalu, saat eksistensimu itu masih aku anggap nyata.

Kalau saja kamu tidak menatap tinggi-tinggi ke arah puspa indah semerbak yang hidupnya jauh di atas sana, kamu tidak harus kelihatan lesu seperti ini.

Padahal, usahamu tidak pernah melebihi sejengkal kakimu. Sayang sekali, kamu payah.

Ingin aku dorong kamu jauh-jauh dari ruangmu yang suram itu tapi biarlah, toh aku sudah jatuh hati padamu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s