Tahun Ke-3

15 Februari 2015, 23.36. Hari ke-15 di bulan ke-2 di tahun Ayin Hey ini. Tahun ke-3 di tanah rantau, Malang. Menulis tepat disituasi gundah dan dipenuhi dengan pertanyaan. Istilah yang selalu saya sematkan, “Berisik nih otak”. Itu tanda saya sedang banyak berpikir dan tidak menemukan jawaban. Kadang juga itu adalah istilah saya mau menangisi banyak hal tapi air mata tidak kunjung keluar. Entah kenapa. Masih tidak mengerti. Mungkin obat untuk kegundahan ini bukan lagi sekedar air mata tapi lari dan membebaskan badan dari kepenatan. Mengelabui sistem biologi kalau saya boleh mengistilahkan.

Oh ya, hari ini hari Minggu. Besok semester baru dimulai. Semester 6. Besok baru tahun barunya mahasiswa FIB, Sastra Inggris dimulai. Dengan 18 sks mendampingi selama kurang lebih 6 bulan kedepan dengan berbagai kejutan di depan, saya sungguh excited. Hmm, kurang yakin juga. Banyak yang bakal dikerjakan perihal organisasi, kuliah dan kehidupan pribadi saya sendiri (kalo bagian ini bagian yang lebih banyak menguras energi pikiran dan perasaan). Diberkatilah semester 6 dan 7 nanti yang bakal highlight tentang KKN dan skripsi. Amin.

Adek mau cepet lulus, Bang. Mau cepet mapan. Mau cepet mandiri secara finansial.

Tapi yang cepet itu yang bakal bikin kita (cepet juga) hidup di real world, ketemu sama real people dan gawein real shit (ups). Seperti kebanyakan tulisan saya yang banyak memikirkan tentang hidup, saya jadi kepikiran tentang real world, real people and real shit diatas tadi, Saya cuma engga habis pikir bagaimana teman-teman saya sekarang bukanlah real people. Dan kehidupan kuliah yang menguras tenaga, pikiran dan uang ini bukan salah satu real world juga? Lalu apa yang saya kerjakan selama ini kalau bukan real-shitnya-mahasiswa? Kemudian pikiran saya yang tidak berarah ini malah menyimpulkan saya sedang menghidupi karantina-sebelum-memasuki-real-world. Dan kalau mau menambahkan, karantina-sebelum-ketemu-dengan-real-people-untuk-ngulikki-real-shit.

“Karantina”nya aja udah berat apalagi kalo udah lulus dari “karantina” ini?

Hidup di dunia nyata setelah “karantina” ini pasti berat. Tapi, bukankah kita yang memanggil Dia, Tuhan Yang Maha Kuasa? Kenapa harus takut.

Iklan

2 respons untuk ‘Tahun Ke-3

  1. Kalau selama ‘karantina’ aja kita udah nyerah, entah apa yang bakal terjadi ketika kita udah keluar dari karantina. Apa? Terdampar di bawah kolong jembatan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s