Sudah Selesai dengan Diri Sendiri?

Ditengah sebuah acara seminar, saya bercakap-cakap dengan seorang General Manager tentang seminar yang kami hadiri. Banyak hal yang dibahas sembari kami menikmati makan siang kami. Well…saya lebih banyak mendengar karena saya merasa paling muda dan tidak tahu apa yang mau dilempar ditengah-tengah diskusi kami ber-4.

Pada saat itu, beliau banyak bercerita tentang bagaimana pada tahun 2015, beliau bisa didiagnosis tifus dan dirawat di rumah sakit 4 kali. Iya. Empat kali didiagnosis tifus. Ini dikarenakan kesibukan beliau  mengurus banyak hal berkenaan urusan kantor. Ikut seminar sana-sini. Menjadi pembicara seminar juga. Pada akhirnya, kesibukannya pun diikuti protes dari anak-anaknya. Maklum. Beliau adalah seorang ibu.

Yang membuat menarik percakapan kami (menurut saya) adalah bagaimana beliau memutuskan untuk mengurangi jadwal berpergiannya dan banyak meluangkan waktu dengan keluarga sekaligus mengembalikan kesehatannya. FYI, beliau tahun ini memutuskan berdiet dan banyak berolahraga. Menurut beliau (berdasarkan buku-buku psikologi yang beliau baca), ada 8 aspek kehidupan manusia yang harus seimbang: pendidikan, keluarga, kesehatan, pekerjaan, dll (saya lupa yang lainnya apa).

Keputusan beliau untuk banyak mengikuti seminar (aspek pendidikan) ternyata membuat kesehatannya terganggu dan terkena protes keluarga. Tahun ini, beliau “kehilangan” sedikit kegiatan seminarnya tapi mendapatkan banyak kesempatan berkumpul dengan keluarga sekaligus mampu memperbaiki pola hidupnya lagi.

Akhirnya saya bertanya kepada beliau, “Bagaimana ya Bu 8 aspek tadi bisa seimbang?”. Beliau sambil tersenyum menjawab, “Berapa jam yang kamu punya 1 hari Fan? Hahaha.. Caranya sederhana, kamu selesai dulu sama diri sendiri. Kalau kamu selesai sama diri sendiri dalam satu hari, yang lain pasti akan seimbang. Tapi jangan berharap kita bisa please semua orang. Akan selalu ada haters.”

Saya mengangguk setuju, “Selesai dengan diri sendiri.”

 

Hari itu berakhir sederhana. Sesederhana dengan jawaban beliau, Selesai dengan Diri Sendiri.

Saya tidak bisa menolak kalau apa yang beliau bilang memang benar. Kadang saat kita berkonflik dengan orang lain, kita lupa kalau kita belum “selesai” dengan amarah yang ada di dalam kita. Kita cenderung menujuk keluar tanpa tahu yang di dalam sudah kelar atau belum. Karena ketidakselesaian kita dengan diri sendiri, kita bisa menyakiti orang lain dengan perkataan kita. Dan berakhir dengan konflik baru dengan orang lain.

Semenjak hari itu, saya memutuskan untuk selesai dengan diri sendiri sesudah bangun tidur dan sebelum pergi tidur. Saya tidak mau ketidakselesaian saya dengan diri saya sendiri menyakiti orang lain atau bahkan menyakiti diri saya sendiri lagi..

Jadi, sudahkah kita selesai dengan diri sendiri hari ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s