O Jakarta!

Camping

Selepas matahari mulai menutup diri dari hari, warna jingga menyatu dengan biru sayu. Wajah orang berlalu-lalang rindu rumah yang didalamnya ada kasih dan keluarga. Sepanjang jalan hiruk pikuk rindu menyeru “Aku ingin pulang.” Saat ku pikir semua orang sudah kembali ke rumahnya, kota Jakarta.

Rumahku memang bukan di Jakarta. Tapi acap kali dibuatnya ku jatuh cinta tiap matahari memilih mundur dari panggung drama. Jadi kupikir jatuh cinta itu sama artinya dengan kembali ke rumahmu. Atau menemukan rumahmu.

Aku sama sekali tidak memiliki alasan untuk jatuh cinta dengan kota padat penduduk yang ramai seperti pasar ikan di pagi hari ini. Jarang ku temui rendah hati, yang banyak angkuh dan pamer sana sini. Lain kata, aku benci kota ini.

Tapi benar kata orang-orang yang bilang ini pepatah tapi tidak tahu sumbernya dari mana,
“Kalau kau tidak kenal, maka tidak kau sayang.”
Ah kurang lebih begitulah.

Perlahan kota ini memanggilku ‘tuk kembali pulang seakan memanggilku untuk jatuh cinta. Bukan pada gedungnya yang tinggi semampai sampai pegal leherku mencari puncaknya, tapi pada aura megahnya yang malah keluar setiap orang kembali ke rumahnya masing-masing. Berbaris rapih taat aturan lalu lintas. Bunyi klakson sana dan sini. Menahan kencing saat kemacetan seperti menahan perasaan pada yang dicinta. Degup jantung yang tidak sabar bertemu anak untuk melepas rindu atau tetangga untuk sekedar menggosipkan tetangga lainnya.

Nyala lampu jalan yang dibayar dengan pajak negara. Bolak balik angkutan umum melewati jalur yang sama tanpa disadari mungkin sang sopir atau masinis mulai bosan. Lagu dangdut yang diputar di radio usang pos satpam dekat rumah. Bunyi jargon andalan tahu bulat. Suara mesin motor baik keluaran awal 2000 atau yang baru saja keluar nomor plat kendaraannya.

Suara pekerja, “Bang nasi gorengnya satu pake telor.” sepulang bekerja. Menghabiskan makanannya sendiri berharap segera lebaran supaya bisa kembali ke kampung halaman di tanah Jawa. Seakan Jakarta bukan bagian dari Jawa. Alien bilang.

Kadang aku membayangkan kota Jakarta seperti anak kecil yang dipaksa dewasa oleh kapitalisme. Ah! Istilah yang sering dipakai para pemikir untuk melabeli kota Jakarta. Sehingga muncul istilah “Jakarta keras, Bung!” Entah Bung siapa tapi aku percaya bukan bunga-bunga ditaman. Macam lagu dangdut.

O Jakarta, aku harap semarakmu tidak pudar karena perasaan ingin ini ingin itu baik dari mereka atau kalian.
Ya, aku memang suka bermain kata. Tapi dari semua yang ku tulis, aku tau’ aku mengalami Jakarta dengan semua inderaku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s