The Story of Attachment: Bonding with Sate Babi, Ex and Malang

Judul boleh Bahasa Inggris tapi isinya pakai Bahasa Indonesia. Ya gak gimana-gimana juga. Namanya pengguna aktif 2 bahasa untuk kehidupan sehari-hari. Bahasa Indonesia buat komunikasi sehari-hari sedangkan Bahasa Inggris buat mencak-mencak diantara komunikasi dengan Bahasa Indonesia. Ehe.

Well, ini bukan soal penggunaan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baik dan benar. Gue lagi mau share soal attachment yang gue yakini jadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari sebagai manusia. Contoh sederhana dari gue adalah ketika mendengar kata “sate babi”. Sebagai penyuka daging babi dalam segala bentuk dan resep, pikiran gue langsung tertuju dengan sate-sate babi yang enaknya ga biasa dan dengan siapa gue makan sate-sate babi tsb. Bisa dengan keluarga, teman-teman dekat gue atau mantan pacar.

Tapi, buat orang yang tidak pernah atau tidak biasa makan sate babi pasti tidak punya impresi tertentu soal “sate babi”. Ada yang beranggapan itu haram atau juga jjik bahkan saat membayangkannya. Hmm….belum tau aja enaknya kayak apa.

Itu hanya contoh kecil dari gue sih. Sebagai penyuka “sate babi” gue merasa ada attachment atau hubungan antara “sate babi” dan kenangan dimasa lampau. Ada cerita diantara gigitan “sate babi” yang gue makan dan orang-orang terdekat gue. I guess those that I call “attachment”. Sate babi attaches me with person I care about.

Yang belum pernah lihat sate babi kayak gimana, cek foto dibawah ini ya.

sate-babi-manis
Sumber: https://segalaadashop.wordpress.com/2014/03/01/sate-babi/

Dari contoh “sate babi” diatas, gue belajar kalau makanan aja bisa bikin manusia feel attached apalagi sama manusia lainnya. Whom are you attached with, guys? Do you remember particular someone who have spent amazing moments with you? Or the worst? I do. Everyone does.

Gue pernah nanya tentang seseorang dimasa lalu temen gue. Let’s call him Lemu. Gue nanya ke Lemu soal cewek yang dulu dia gebet dan malah emotionally abusive ke Lemu. Si Lemu ini emang baik banget si. Tapi kebaikkannya kelewatan. Ga pakai logika. Saat dia lagi down karena cewek ini dan masih aja ga bisa ninggalin cewek ini, gue bilang ke dia “Lo bodoh ya?”. Kurang lebih beberapa bulan dia “attached” dengan orang yang salah. In the end, ketika kasus selesai, Lemu fucked up dengan cewek itu. The girl has left him wounded. Dan setiap gue tanya soal cewek itu ke Lemu, dia cuma jawab “Engga tahu. Ga ngurus lagi.” dengan nada ketus. Not only wounded but what happened between Lemu and the girl caused bad vibe and bad attachment for Lemu himself. Gue cuma mengangguk setuju dan berhenti mendiskusikan tentang cewek itu. Now, Lemu is being someone new, better even ready to have new attachment with other persons.

Beda lagi cerita gue dan orang-orang yang punya attachment khusus dengan Kota Malang. Buat gue dan perantau lainnya, kota Malang memang mampu menyihir setiap pedatang dan enggan meninggalkannya. Kebanyakkan perantau yang kuliah, lulus dan harus “pulang kampung” ke kota masing-masing selalu meningat Malang sebagai kota penuh cerita. Makanannya yang murah dan beragam, cuacanya yang sejuk cenderung dingin, tempat wisatanya yang banyak dan dekat, keramahan orang-orangnya, you name it,  selalu memiliki posisi terbaik dihati kami para perantau. Mau buruk atau baik, kami tidak akan menolak untuk mengunjungi Malang lagi. Jatuh cinta dengan kota ini lagi. Dan harus patah hati karena harus meninggalkan kota ini. In another word, we left parts of our heart in Malang, some parts that are attached with us and bonded so strong.

stasiun kota baru
Sumber: http://infobatumalang.blogspot.co.id/2016/07/stasiun-malang.html

Gue belajar dari attachment yang gue dan teman-teman perantau lain miliki dengan kota Malang kalau sesakit apapun kenangan yang terjadi disebuah kota atau dengan seseorang, kita memiliki kuasa untuk memilih. Memilih mengingat yang terbaik atau yang terburuk. Dan kami memilih bagian yang terbaik yang pernah kami alami dengan kota Malang dan orang-orangnya.

Attachment ternyata juga soal memilih mana yang patut jadi bagian dari ingatan kita atau tidak, guys. Mungkin Lemu memilih untuk mengingat kenangan terburuk sebagai pengingat attachment yang pernah dia miliki dengan seorang cewek. It is really okay. Beda lagi dengan pilihan gue. Dari setiap attachment yang ada, gue akan memilih yang terbaik. Karena buat gue, walaupun kenangan itu buruk untuk diingat, the attachment will be blurred by different moments and memories.

Jadi, untuk setiap attachment yang kalian miliki, buruk atau baik, syukuri. Memang tidak mudah memutuskan attachment buruk yang sudah ada tapi bukan kah lebih mudah belajar untuk membuat attachment yang baru? Semoga lebih mudah.

With more excitements and love to bond a new attachment, I believe all of us can do it.

Adios, amigo!

God bless you all.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s